Saturday, February 02, 2008

Prospek Bisnis Transaction Gateway (Switching)

Source: http://zepbees.wordpress.com/2007/08/02/mengutip-fulus-dari-jasa-transaction-gateway

Potensi bisnis jasa switching sangat besar. Apalagi, ke depan, transaksi non tunai akan semakin meluas, tandas Suryono Hidayat, Direktur Pemasaran PT Rintis Sejahtera. Ia sendiri mengaku tak bisa mengungkap besaran bisnisnya. Namun, sebuah hasil riset yang dilakukan bank sentral menyebutkan bahwa transaksi elektronik lewat jasa perusahaan switching kini diperkirakan mencapai Rp 3-4 triliun per tahun. Sungguh menggiurkan.

Menggiurkannya bisnis transaction gateway tersebut, boleh jadi, membuat BCA tak hendak bergabung dalam jaringan ATM Bersama yang dikembangkan PT Artajasa Pembayaran Elektronik, ataupun jaringan Alto milik PT Daya Network Lestari (DNL) yang kini memiliki anggota 15 bank. BCA lebih memilih ikut mengembangkan jaringan ATM sendiri diberi nama ATM Prima yang dikembangkan perusahaan dalam kelompok bisnisnya, yakni PT Rintis Sejahtera.

Selain Artajasa, DNL dan Rintis, bisnis transaction gateway juga mengundang minat pemain lain. Antara lain PT Finnet Indonesia, usaha patungan antara anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom), yakni PT Multimedia Nusantara, dengan perusahaan milik Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia, yakni PT Mekar Prana Indah. Di Finnet ini tercatat nama mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aulia Pohan, sebagai Komisaris Utama.


Perusahaan lain yang juga mulai menerjuni bisnis jasa jaringan ATM ini adalah PT Indonesia Union Pay (Indopay). Indopay yang 100% sahamnya dimiliki keluarga Sampoerna sebelumnya fokus menggarap jaringan merchant di Bali. Kini Indopay sudah melangkah ke Ibu Kota. Dari hampir 100 ribu mesin electronic data capturer (EDC) yang ada, sekitar 45% dimiliki Indopay. Selebihnya dimiliki Rintis dan 7 bank besar, yakni: Citibank, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Lippo, Danamon, Bank Internasional Indonesia dan Bank Permata.


Masuknya Rintis ke bisnis jasa gerbang transaksi ini, menurut Suryono, karena potensi pasarnya masih sangat besar. Diperkirakan nilai total pasar para pemain di bisnis ini baru 10% dari nilai potensialnya. Misalnya, untuk layanan transfer, jika batasan BI diperluas, pasarnya akan membesar. Saat ini BI baru mengizinkan transfer antar-ATM senilai Rp 10 juta per rekening per hari. Kalau saja batasan ini dilonggarkan sampai Rp 50 juta, saya yakin pasarnya akan membesar, ujar Suryono.


Berdasarkan itulah, maka pada 2000 Rintis mulai memperkenalkan jaringan ATM Prima. Investasi yang dibenamkan mencapai US$ 4 juta, dengan biaya perawatan 15% per tahun dari nilai investasi itu. Saat ini, ATM Prima sudah mampu menghimpun 26 bank anggota. Hingga akhir tahun 2007 akan bertambah empat bank baru ke dalam jaringan ini. Dengan jumlah anggota sebanyak itu, membuat jaringan Prima memiliki 7.800 unit ATM dengan 6 ribu unit di antaranya dimiliki BCA.


Menurut Suryono, para anggota ATM Prima akan dikenai biaya Rp 5 ribu untuk setiap transaksi tarik tunai dan transfer, serta Rp 3 ribu per transaksi untuk cek saldo. Biaya ini dikenakan jika misalnya nasabah bank A menarik uang menggunakan ATM bank B. Dari jumlah itu Rintis menerapkan harga jasa switching-nya sekitar Rp 1.000, atau 20% dari total biaya transaksi. Sisanya diberikan kepada bank pemilik ATM. Ia mengklaim, dalam sehari transaksi antarjaringan Prima bisa mencapai 70 ribu transaksi. Bisa dibayangkan pendapatan yang diraup Rintis. Apalagi, sebagian besar pendapatan dari jasa transaction gateway itu masih datang dari layanan dasar, yakni layanan tarik tunai yang menyumbang 70%. Lalu, dari layanan transfer 20%, dan sisanya jasa lain seperti cek saldo, inward remittance (transfer dari luar negeri ke Indonesia), mobile banking dan autodebet di point of sales (pakai mesin EDC di kasir).

Kendati begitu, Suryono menyebutkan, biaya yang dikutip Rintis lebih murah ketimbang mendirikan ATM sendiri. Pasalnya, biaya untuk satu unit ATM saja bisa mencapai Rp 15-20 juta per bulan. Biaya itu digunakan untuk sewa tempat, listrik, perawatan dan sebagainya; belum termasuk biaya pembelian mesin, penyediaan uang, penghitungan, dan pengantaran ke bilik ATM.


Pendapat Suryono diamini Presdir PT Artajasa Pembayaran Elektronik, Arya Damar. Menurutnya, salah satu manfaat bagi bank yang bergabung dengan Artajasa adalah penghematan biaya pengadaan dan perawatan mesin ATM. Pasalnya, untuk pembelian satu unit mesin ATM saja, bank harus mengeluarkan US$ 12 ribu. Di luar itu, pihak bank juga mesti membiayai pengadaan komputer; saluran telekomunikasi Rp 1 juta/bulan; sewa tempat Rp 5 juta/bulan; perawatan mesin di atas US$ 100/bulan; biaya penghitungan uang; pengantaran uang ke ATM, dan sebagainya.

Jadi, biaya perawatan untuk satu ATM saja, dalam perhitungan Arya, bisa mencapai Rp 150 juta per tahun. Padahal, jika bergabung dengan jaringan ATM Bersama atau Link (untuk bank-bank milik pemerintah), biayanya jauh lebih murah. Sebuah bank hanya akan dikutip joining fee sebesar Rp 400 juta, dan biaya pemeliharaan ATM Rp 20 juta/bulan untuk seluruh ATM. Itu sangat menguntungkan. Kalau bank kecil, lalu tiba-tiba bisa memiliki 11.200 jaringan ATM dengan biaya hanya Rp 400 jutaan, hemat dan murah sekali kan, Arya menguraikan sambil berhitung-hitung. Sementara itu, Rintis memungut biaya keanggotaan US$ 60 ribu per tahun.


Selain penghematan, bank anggota juga bisa mengutip fee dari setiap transaksi yang dilakukan nasabah bank lain, alias bisa memperoleh fee-based income. Misalnya, nasabah bank A bertransaksi di ATM bank B yang sudah tergabung di jaringan ATM Bersama, maka bank A harus membayar biaya Rp 3.900/transaksi (untuk tarik tunai). Dari biaya itu, Artajasa memperoleh fee untuk jasa switching 18%-20%, tergantung pada jenis transaksi.

Yang jelas, sejak dikembangkan 7 tahun lalu, berbagai perusahaan jasa publik (Telkom dan PLN); perusahaan leasing motor (Oto Finance, Adira, FIF); perguruan tinggi (Universitas Indonesia); pembayaran pajak bumi dan bangunan; serta 67 bank telah tergabung dengan ATM Bersama. Arya mengklaim, dalam sebulan jaringan ATM Bersama menangani 12-13 juta transaksi. Dan, asal tahu saja, dari jasa ini pendapatan Artajasa bisa mencapai Rp 100 miliar/tahun, dengan margin keuntungan 30%!


Menurut Arya, potensi pasar transaction gateway masih sangat luas. Pasalnya, masih banyak peluang yang belum tergarap, seperti transaksi pembayaran tiket kereta api, pesawat terbang, zakat dan sebagainya. Menurut kami pasar yang ada sekarang ini baru 10% dari potensi pasar yang ada, ujar lulusan Teknik Elektro ITB tahun 1987 ini. Ke depan, kami akan mengembangkan transaction gateway melalui layanan mobile, tambahnya bersemangat.


Para Penyedia Jasa Transaction Gateway

1. PT Artajasa Pembayaran Elektronik

  • Mulai beroperasi tahun 2000.
  • Nama produk ATM Bersama dan Link.
  • Anggota: berbagai perusahaan jasa publik, leasing motor, perguruan tinggi, pembayaran pajak bumi dan bangunan, serta 67 bank.
  • Dalam sebulan menangani 12-13 juta transaksi.


2. PT Rintis Sejahtera

  •   Berdiri tahun 2000.
  •   Nama produk ATM Prima.
  •   Memiliki anggota 26 bank; dengan 7.800 unit ATM.
  •   Dalam sehari terjadi 70 ribu transaksi.


3. PT Daya Network Lestari

  •   Berdiri sejak 1994.
  •   Nama produk ATM Alto.
  •   Memiliki anggota 15 bank, antara lain: Danamon, BII, Permata, Lippo, Panin, Artha Graha, Bukopin; dengan 3.700 unit ATM.


4. PT Finnet Indonesia

  •   Berdiri pada 2006.
  •   Target pasar 2006-2010 adalah data communication BI; lima bank papan atas (BII, Lippo, Mandiri, BNI, Bank Buana); transaksi untuk transportasi (Jasa Marga); utilitas (PAM, PLN); dan perpajakan.
  •   Target pendapatan hingga 2010 mencapai Rp 350 miliar dan kapitalisasi pasar Rp 3 triliun.


5. PT Indonesia Union Pay (Indopay)

  •   Indopay, yang sebelumnya fokus menggarap jaringan merchant di Bali, kini melangkah ke Ibu Kota.
  •   Dari hampir 100 ribu mesin EDC yang ada, sekitar 45% dimiliki Indopay.


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

0 Comments: